IndoBRITA, Manado – Sebagian orang di Manado maupun Sulawesi Utara hanya mengenal sosok Rony Immanuel atau yang lebih dikenal dengan nama artis Mongol ‘Stres’ sebagai pelawak. Komedian berdarah Kawanua ini bukan hanya jago mengocok perut, tetapi merupakan pemikir yang brilian loh!
Setiap kali melucu di depan publik, Stand Up Comedy ini ikut mengkritik pemerintah. Kalau diamati memang dalam materi yang dibawakan komedian bermata cipit itu sedikit menginggung ‘penguasa’. Dibawakannya pula tidak memakai tes, tapi atas pemikirannya sendiri.
Mongol dalam membawakan kelucuan memang terlihat kehebatannya. Jangan salah beliau lulusan strata dua makanya pintar.
Wartawan pun saat bersua langsung dengan Mongol di salah satu cafe di Bilangan Samrat Manado, Kamis (08/03/2018), terkesima dengan kemampuannya.
Khusus dengan kemajuan pariwisata Sulut, Mongol turut mengkritiknya.
Sesuai amatannya di lapangan masih banyak yang harus dibenahi, terlebih pada sarana dan prasarana pariwisata.
Ia menuturkan pariwisata Sulut belum dimaksimalkan, contohnya di Bandara Samratulangi Manado. Di sana tidak terlihat objek wisata Sulut.
“Coba ke Bandara di Jogja, kiri kanan ngoni pasti akan melihat gambar candi-candi. Nah, di sini nda ada seperti itu. Harusnya jual pariwisata, seperti gambar waruga atau apalah yang penting objek-objek wisata,” katanya.
Mongol kembali membandingkan bandara yang kita miliki dengan Bandara Sepinggan Balikpapan.
“Kalau Sepinggan ngoni tahu gambar paling besar di sana siapa? Dorang pe raja. Torang Bandara Samratulangi cuma depe tulisan depe gambar nda ada,” ungkapnya.
Artis yang sudah banyak main film itu pun merasa heran dengan sejumlah festival yang diadakan di Sulut.
“Ada festival Bunaken tapi bikinnya di Mantos. Seharusnya bikin di Bunaken. Ini kan aneh. Karena festivalnya nggak sesuai tempat kita dapat protes dari kementrian,” ungkapnya.
Ia pun mengkritik kebudayaan Sulut.
“Setiap sore di Bali ada tiga titik memperagakan seni budaya. Tari Kecak di Uluwatu, GWK dan satu lagi di daerah Jimbaran. Jadi itu bule habis lihat sunset pergi lihat seni tari. Torang di mana ada begitu?,” tanya kelahiran Manado, 27 September 1978 ini.
Yang membuat dia heran lagi, terkait tarian yang ada di Sulut. Di mana, yang terkenal hanyalah Tarian Maengket. Padahal ada juga tarian lain yang jauh lebih dulu ada.
“Torang cuma mentok di Tarian Maengket, padahal ada Tarian Gunde. Tarian Maengket itu abad ke-14, sementara Tarian Gunde abad ketiga. Kenapa pemerintah selalu perkenalkan Maengket. Ini ada apa,” tanyanya lagi.(sco)